Kamis, 08 Desember 2011

PENGARUH MOTIVASI BELAJAR DAN METODE PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA LAJU REAKSI

Sonang Sitorus*
*Guru Kimia Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tebing Tinggi, Jl Sutomo No 15
Tebing Tinggi, Sumatera Utara, e-mail : ulysitorus81@yahoo.com

Abstrak
Pokok bahasan laju reaksi adalah salah satu pokok bahasan kimia di SMA yang membahas tentang konsentrasi larutan, faktor-faktor yang mempercepat laju reaksi, orde reaksi dan pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi. Pada pokok bahasan ini diperlukan beberapa eksperimen yang membutuhkan kecakapan siswa dan kolaborasi antara sesama siswa. Untuk situasi ini diperlukan metode pembelajaran yang sesuai agar keberhasilan pencapaian ketuntasan belajar maksimal. Untuk menyajikan materi ini maka dipilihlah suatu model pembelajaran berbasis masalah. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1)pengaruh hasil belajar kimia siswa yang diajarkan dengan model berbasis masalah dengan siswa yang belajar tanpa model berbasis masalah (konvensional), (2) pengaruh tingkat motivasi belajar siswa yang diajarkan dengan model berbasis masalah dengan siswa yang belajar tanpa model berbasis masalah, (3) apakah ada interaksi antara model pembelajaran berbasis masalah dan motivasi belajar dalam mempengaruhi hasil belajar kimia. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Lumban Julu.
Hasil pengujian hipotesa menunjukkan bahwa (1) hasil belajar kimia siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah lebih baik secara signifikan dibandingkan dengan hasil belajar belajar kimia siswa tanpa menggunakan model berbasis masalah yang ditunjukkan dari nilai proporsi p (Sig (2-tailed)) = 0,00(harga p < 0,05), (2) motivasi belajar siswa yang diajarkan dengan model berbasis masalah lebih baik dibandingkan dengan siswa yang belajar tanpa model berbasis masalah ditunjukkan dari nilai proporsi p (Sig (2-tailed)) = 0,00(harga p < 0,05), (3) tidak ada interaksi antara model pembelajaran berbasis masalah dan motivasi belajar siswa dalam mempengaruhi hasil belajar kimia yang ditunjukkan dengan nilai signifikan (0,44 > 0,05)
Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa model pembelajaran berbasis masalah dan motivasi belajar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan tanpa menggunakan pembelajaran berbasis masalah.

Kata Kunci :   Metode Pembelajaran, Motivasi Belajar, Laju Reaksi, Prestasi Belajar, Siswa      SMA.


Pendahuluan
Ilmu kimia merupakan salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam yang menjelaskan tentang susunan, komposisi, sifat-sifat dan perubahan materi serta perubahan energi yang menyertai perubahan- perubahan materi tersebut. Sebagian besar materi ilmu kimia tergolong abstrak, sehingga kebanyakan siswa menganggap mata pelajaran kimia sebagai mata pelajaran yang sulit, sehingga siswa sudah terlebih dahulu merasa kurang mampu untuk mempelajarinya (Situmorang,dkk 2009). Hal ini mungkin disebabkan proses pembelajaran kimia di berbagai sekolah selama ini terlihat kurang menarik, pembelajaran hanya satu arah, kimia disajikan hanya sebagai kumpulan rumus belaka yang harus dihafal mati oleh siswa sehingga siswa merasa jenuh dan kurang memiliki minat pada pelajaran kimia, suasana kelas cenderung pasif, sedikit sekali siswa yang bertanya pada guru meskipun materi yang diajarkan belum dapat dipahami. Keadaan demikian menimbulkan kejengkelan, kebosanan, sikap masa bodoh, sehingga perhatian, minat, dan motivasi siswa dalam pembelajaran menjadi rendah. Hal ini akan berdampak terhadap ketidaktercapaian tujuan pembelajaran kimia. (Sunyono, 2009).
Di samping itu, guru kurang memberikan contoh-contoh konkrit tentang reaksi-reaksi yang ada di lingkungan sekitar dan sering dijumpai siswa (Ratnasari, 2006). Salah satu pokok bahasan yang dianggap siswa sulit untuk dipelajari adalah tentang laju reaksi. Pokok bahasan laju reaksi adalah salah satu pokok bahasan kimia di SMA yang membahas tentang konsentrasi larutan, faktor-faktor yang mempercepat laju reaksi, orde reaksi dan pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi. Pada pokok bahasan ini diperlukan beberapa eksperimen yang membutuhkan kecakapan siswa dan kolaborasi antara sesama siswa. Untuk situasi ini diperlukan metode pembelajaran yang sesuai agar keberhasilan pencapaian ketuntasan belajar maksimal. Kemampuan mengajar guru adalah salah satu faktor yang dapat menentukan hasil belajar siswa. Beberapa diantaranya adalah kemampuan menggunakan pendekatan pengajaran atau pembelajaran, mengelola kelas dan penguasaan materi.
Hakekat Motivasi Belajar
Motivasi pada dasarnya merupakan penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu yang ada diluar diri. Semakin kuat atau semakin dekat hubungan tersebut, maka motivasi juga semakin tinggi. Dalam psikologi, motivasi diartikan sebagai suatu kekuatan yang terdapat dalam diri manusia yang dapat mempengaruhi tingkah lakunya untuk melakukan kegiatan. Motivasi sebagai faktor inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari dan mengarahkan perbuatan belajar (Supriyono, 2004). Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan yang memberikan arah kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai (Sardiman, 2006).
Sesuai dengan pengertian motivasi yang dijelaskan di atas, bahwa tidak perlu dipertanyakan lagi pentingnya motivasi bagi siswa dalam belajar. Di dalam kenyataan motivasi belajar tidak selalu timbul dalam diri siswa. Ada sebagian siswa yang mempunyai motivasi tinggi namun ada juga yang rendah motivasinya. Oleh karena itu seorang guru harus bisa membangkitkan motivasi yang terdapat dalam diri siswa agar dapat mencapai tujuan belajar. Bagi siswa yang sudah mempunyai motivasi, guru bertugas untuk meningkatkan motivasinya, jika guru dapat membangun motivasi siswa terhadap pelajaran yang diajarkan, diharapkan seterusnya siswa akan meminati pelajaran tersebut.
Apabila seseorang telah memiliki ciri-ciri motivasi di atas maka orang tersebut selalu memiliki motivasi yang cukup kuat. Dalam kegiatan belajar mengajar akan berhasil baik, kalau siswa tekun mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan berbagai masalah dan hambatan secara mandiri. Selain itu siswa juga harus peka dan responsif terhadap masalah umum dan bagaimana memikirkan pemecahannya. Siswa yang telah termotivasi memiliki keinginan dan harapan untuk berhasil dan apabila mengalami kegagalan mereka akan berusaha keras untuk mencapai keberhasilan itu yang ditunjukkan dalam prestasi belajarnya. Dengan kata lain dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi maka seseorang yang belajar akan melahirkan prestasi belajar yang baik.
Metode Pembelajaran Berbasis Masalah
Metode pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu pembelajaran yang didasarkan kepada psikologi koqnitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Belajar bukan semata-mata proses menghafal sejumlah fakta, tetapi suatu proses interaksi secara sadar antara individu dan lingkungannya. Melalui proses ini siswa akan berkembang secara utuh. Artinya perkembangan siswa tidak hanya terjadi pada aspek koqnitif, tetapi juga aspek afektif dan psikomotor melalui penghayatan secara internal akan problema yang dihadapi (Suyanti, 2010)
 Konsep Dasar dan Karakteristik Metode Pembelajaran Berbasis Masalah

            Metode pembelajaran berbasis masalah (PBL) dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Terdapat tiga ciri utama dari (PBL) yaitu :
1.    PBL merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi PBL adalah sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. PBL tidak mengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui PBL siswa aktif berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.
2.    Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. PBL menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa ada masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran.
3.    Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir secara ilmiah. Berfikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berfikir deduktif dan induktif. Proses berfikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta.
Untuk mengimplementasikan PBL, guru perlu memilih bahan pelajaran yang memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan. Permasalahan dapat diambil dari buku teks atau dari sumber-sumber lain misalnya dari peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, dari peristiwa dalam keluarga atau peristiwa kemasyarakatan.
Dengan menggunakan smetode pembelajaran berbasis masalah diharapkan siswa lebih berpikir kritis, dapat mengembangkan pengetahuannya tentang masalah yang ada dilingkungannya baik itu dilingkungan rumah maupun dilingkungan masyarakat tempat tinggalnya, sehingga didalam kehidupannya nanti dapat menyelesaikan masalah - masalah yang dihadapinya.
            Pengaruh Problem-Based Learning (PBL) pada Pengetahuan Tentang Kekeliruan dan Kecurangan menyimpulkan tidak terdapat perbedaan antara problem based learning denga kelas kontrol mengenai jenis kekeliruan dan kecurangan. Peneliti menduga hal ini dikarenakan tidak spesifiknya metode PBL untuk mengevaluasi jenis kekeliruan dan kecurangan yang biasa terjadi (Riki Ferdinan,2006). Kajian Tentang Problem Based-Learning (PBL) Terhadap Hasil Belajar dan Keterampilan Pemecahan Masalah Siswa pada materi pokok Larutan Penyangga menyimpulkan (1) Adanya perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan metode PBL dan siswa yang diajar dengan metode konvensional, rata-rata hasil belajar kelas eksperimen 78,7 dengan standar deviasi 5,89 dan 91,9 % ketuntasan, sedangkan kelas kontrol rata-ratanya 72,3 dengan standar deviasi 4,4 dan 75,7 % ketuntasan. (2) Keterampilan pemecahan masalah siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol berbeda dengan rata-rata hasil observasi berturut-turut 73,8 % dan 33,4 %. (3) Siswa senang diajar dengan metode PBL, tampak dari hasil angket yang disebarkan diperoleh 41 % sangat setuju, 51% setuju, dan 8 % tidak setuju memberikan tanggapan pembelajaran dengan menggunakan metodel PBL. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan PBL dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran, hasil belajar, dan keterampilan pemecahan masalah siswa dalam bidang kimia khususnya  pada materi larutan penyangga (Setyaningsih, Sri Oktavia, 2008)
            Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran fisika di SMU dalam upaya menanggulangi miskonsepsi siswa. Adapun hasilnya sebagai berikut: (1) Metode Pembelajaran Berbasis Masalah dapat menurunkan miskonsepsi sebesar 18 % lebih efektif dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional yang hanya 7,7 %. (2). Interaksi antara metode pembelajaran berbasis masalah dengan kemampuan berpikir logis secara bersama-sama berpengaruh sebesar 3,1 % terhadap menurunnya kesalahan konsep yang dialami siswa (Simarmata, 2008).
            Dengan melihat keberhasilan pengajaran menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah dalam penyampaian materi pelajaran kimia dan bidang studi lainnya, maka peneliti beranggapan bahwa metode pembelajaran berbasis masalah juga akan efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa terhadap Laju Reaksi.
Laju Reaksi
            Dalam kurikulum SMA, pokok bahasan Laju Reaksi diajarkan pada semester pertama dikelas XI. Laju Reaksi termasuk pokok bahasan yang sulit bagi siswa karena merupakan integrasi dari reaksi kimia dan perhitungan laju reaksi yang terjadi. Dalam laju reaksi selalu berhubungan dengan konsentrasi larutan, faktor-faktor yang mempercepat laju reaksi, orde reaksi dan pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi. Merubah konsentrasi dari suatu zat di dalam suatu reaksi biasanya merubah juga laju reaksi. Persamaan laju menggambarkan perubahaan ini secara matematis. Order reaksi adalah bagian dari persamaan laju. Bagaimanapun, untuk lebih formal dan matematis dalam menentukan laju suatu reaksi, laju biasanya diukur dengan melihat berapa cepat konsentrasi suatu reaktan berkurang pada waktu tertentu.
 Metode Penelitian
Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Lumban Julu. Sedangkan sampel penelitian adalah sebanyak 2 kelas yang ditentukan dengan menggunakan teknik pengambilan secara acak (random sampling) sebagai kelas perlakuan. Penelitian ini adalah bersifat eksperimental, dengan melibatkan dua perlakuan yang berbeda antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol (Kelompok A : kelas yang dibelajarkan dengan metode pembelajaran berbasis masalah, Kelompok B : kelas yang dibelajarkan tanpa metode pembelajaran berbasis masalah).
Prosedur Penelitian meliputi  penyusunan materi pelajaran, pemberian pengajaran dan pengumpulan data. Untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran terhadap hasil belajar siswa, terlebih dahulu dilakukan langkah penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk kedua kelompok penelitian dengan materi ajar laju reaksi  yang terdapat pada materi kelas XI IPA. Dalam pelaksanaan penelitian digunakan dua kelas paralel. Sebelum perlakuan pengajaran, terhadap kelompok eksperimen dan kelompok kontrol terlebih dahulu dilaksanakan test awal (pretest) dengan materi ajar laju reaksi. Pretest bertujuan untuk mengukur kemampuan mahasiswa terhadap pokok bahasan laju reaksi, kemudian dilanjutkan pengajaran dengan penggunaan metode pembelajaran berbasis masalah untuk kelompok eksperimen dan tanpa metode pembelajaran berbasis masalah untuk kelompok kontrol. Untuk memperoleh data tentang pengaruh metode pembelajaran berbasis masalah dan motivasi terhadap hasil belajar siswa dilakukan  test akhir (post test). Pengumpulan data dilakukan dalam dua tahap, yaitu pengumpulan data tentang motivasi belajar siswa dan data tentang hasil belajar siswa.
Hasil Dan Pembahasan
1.    Pengaruh Metode Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) dan Tanpa Metode Pembelajaran Berbasis Masalah (TPBL) Terhadap Hasil Belajar Laju Reaksi di SMA Negeri 1 Lumban Julu.
Pengaruh metode pembelajaran berbasis masalah (PBL) dan tanpa metode pembelajaran berbasis masalah (TPBL) terhadap hasil belajar laju reaksi di SMA Negeri 1 Lumban Julu dapat dilihat pada tabel 1.



Tabel 1. Data Pembelajaran Berbasis Masalah dan Tanpa Metode Pembelajaran Berbasis Masalah
Paired Samples Statistics


Mean
N
Std.Deviasi
Std.Error Mean
Pair 1
TPBL
28,00
35
8,29
1,40
PBL
52,52
35
11,64
1,97



Rata-rata skor hasil belajar siswa tanpa Metode Pembelajaran Berbasis Masalah adalah sebesar 28,00 (dengan standar deviasi 8,29 standar error rata-rata 1,40). Hasil ini meningkat setelah Metode Pembelajaran Berbasis Masalah dengan rata-rata hasil belajar menjadi 52,52 (dengan standar deviasi 11,64 dan standar deviasi rata-rata 1,97). Hasil belajar siswa dengan Metode Pembelajaran Berbasis Masalah lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar Tanpa Metode Pembelajaran Berbasis Masalah.
2.    Pengaruh Metode Pembelajaran Berbasis Masalah dan Tanpa Metode Pembelajaran Berbasis Masalah terhadap Motivasi Belajar Laju Reaksi di SMA Negeri 1 Lumban Julu
Pengaruh metode pembelajaran berbasis masalah dan tanpa metode pembelajaran berbasis masalah terhadap motivasi belajar laju reaksi di SMA Negeri 1 Lumban Julu dapat dilihat pada tabel 2



Tabel 2. Statistik Motivasi Kelompok Metode Pembelajaran Berbasis Masalah (Eksperimen) dan Tanpa Metode Pembelajaran Berbasis Masalah (Kontrol)

Paired Samples Statistics

Mean
N
Std.Deviasi
Std.Error Mean
Pair 1
Motivasi Eksperimen
77,63
35
4,92
0,83

Motivasi Kontrol
73,17
35
4,35
0,74
      


Rata-rata motivasi belajar siswa dengan Tanpa Metode Pembelajaran Berbasis Masalah adalah sebesar 73,17 (dengan standar deviasi 4,35 dan standar error 0,74). Motivasi belajar siswa meningkat dengan Metode Pembelajaran Berbasis Masalah dengan rata-rata hasil belajar menjadi 77,63 (dengan standar deviasi 4,92 dan standar error 0,83). Motivasi belajar siswa dengan Model Pembelajaran Berbasis Masalah lebih baik dibandingkan dengan motivasi belajar Tanpa Model Pembelajaran Berbasis Masalah.
3.    Pengaruh Tingkat Motivasi Terhadap Keberhasilan Belajar Menggunakan Metode Pembelajaran Berbasis Masalah dan Tanpa Metode Pembelajaran Berbasis Masalah di SMA Negeri 1 Lumban Julu.
Tingkat motivasi belajar dan hasil belajar menggunakan Metode Pembelajaran Berbasis Masalah dan Tanpa Metode Pembelajaran Berbasis Masalah siswa di SMA Negeri 1 Lumban Julu seperti tabel 3.


Tabel 3. Hubungan Metode Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Tingkat Motivasi Belajar
 Laju Reaksi
Test of Between –Subjects Effects
Dependent Variable : nilai
Source
Type III Sum of Squares
df
Mean Square
F
Siq
Corrected Model
Intercept
Motivasi
Metode
Motivasi*Model
Error
Total
Corrected Total
0,59 (a)
5,96
0,42
0,10
0,17
0,63
8,67
1,22
31
1
20
1
10
38
70
69
0,02
5,96
0,02
0,10
0,02
0,02
1,16
362,30
1,29
6,32
1,02
0,33
0,00
0,24
0,02
0,44
 
Nilai signifikan > α yaitu  0,44 > 0,05 maka tidak ada pengaruh antara tingkat motivasi terhadap keberhasilan belajar pada laju reaksi melalui Metode  Pembelajaran Berbasis Masalah di SMA Negeri 1 Lumban Julu.

Kesimpulan Dan Saran
            Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengajaran kimia Laju Reaksi dengan menggunakan metode Pembelajaran Berbasis Masalah dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Metode Pembelajaran Berbasis Masalah memudahkan siswa memahami konsep dasar kimia dan membangkitkan motivasi belajar siswa. Penyampaian materi pelajaran kimia dengan menggunakan metode Pembelajaran Berbasis Masalah memberikan kesan pengajaran yang lebih bermakna dibandingkan dengan pengajaran konvensional karena penyampaian materi pelajaran kimia dengan menggunakan metode Pembelajaran Berbasis Masalah siswa langsung diperhadapkan dengan masalah sehingga siswa termotivasi untuk memecahkannya.

Ucapan Terimakasih
Ucapan terimakasih disampaikan kepada kepala sekolah SMA dan Wakil kepala sekolah SMA Negeri 1 Lumban Julu yang telah turut membantu terlaksananya penelitian ini.


Daftar Pustaka
Djamarah,Bahri,S.,(2002), Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta, Jakarta

Hamalik, Oemar.,(2005), Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta
Napitupulu,M., (2009), Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar Siswa,Tesis Program Studi Kimia   Program Pascasarjana UNIMED, Medan

Roestyah, NK., (2001), Strategi BelajarMengajar, Rineka Cipta, Jakarta

Safrimi, (2007), Pengaruh Metode Pembelajaran dan Motivasi Belajar Siswa terhadap Hasil  Belajar Kimia Siswa SMA Negeri 1 Medan, Tesis Program Studi Kimia Program Pascasarjana UNIMED, Medan

Setyaningsih, (2008), Kajian Tentang Problem Based Learning (PBL) Terhadap Hasil Belajar dan Keterampilan Pemecahan Masalah Pada Materi Larutan Penyangga, FMIPA Universitas Negeri Malang

Situmorang,M., (2010), Keefektivitasan Media Komputer Dalam Meningkatkan Penguasaan Kimia Siswa Sekolah Menengah Kejuruan Pada Pengajaran Materi dan Perubahannya, Arikel Publikasi Ilmiah, FMIPA Universitas Negeri Medan

Suyanti, R.D., (2010), Strategi Pembelajaran Kimia, Graha Ilmu, Yogyakarta

ANALISIS MATERI AJAR KIMIA DAN PEMBELAJARANNYA KELAS VII DI SEKOLAH SMP YPN ETIS LANDIA


Sonang Sitorus*
*Guru Kimia Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tebing Tinggi, Jl Sutomo No 15
Tebing Tinggi, Sumatera Utara, e-mail : ulysitorus81@yahoo.com

Abstrak
         Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dan silabus ada hal sudah sepantasnya dikembangkan agar pencapaian hasil belajar maksimal. Selain hal itu, diperlukan perhatian yang cukup terhadap faktor internal dan eksternal dari diri pribadi siswa agar pencapaian tersebut benar-benar tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kurikulum, silabus, bahan ajar serta masalah pembelajaran. Sebagai sampel dari penelitian ini adalah pihak sekolah dan juga siswa terdiri dari satu kelas yaitu 32 orang. Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif (%) menggunakan instrumen angket, disamping itu juga, dilakukan wawancara dan observasi terhadap lingkungan sekolah.
         Analisis materi ajar menunjukkan bahwa buku yang digunakan sudah sesuai dengan silabus, namun siswa belum memiliki buku pegangan sendiri. Hal ini diakibatkan keadaan ekonomi orang tua. Disamping itu juga, ditemukan masalah pembelajaran seperti halnya, sarana dan prasarana sekolah yang kurang memadai. Media yang tidak disediakan oleh sekolah sehingga guru berinisiatif  menyediakan sendiri. Kualifikasi guru yang mengajar berlatar belakang kependidikan yaitu jurusan kimia.
Keyword : Kurikulum, silabus, masalah pembelajaran, analsis materi ajar.

Pendahuluan

         Pemberlakuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2001 tentang Pemerintah Daerah menuntut pelaksanaan otonomi daerah dan wawasan demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Pengelolaan yang semula bersifat sentralistik berubah menjadi desentralistik. Penerapan desentralistik pengelolaan pendidikan adalah dengan diberikannya wewenazng kepada sekolah untuk menyusun kurikulum. Hal itu juga mengacu pada undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 pada tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, yaitu pasal 3 tentang fungsi dan Tujuan Pendidikan serta pasal l35 tentang standar nasional pendiidikan. Selain itu, juga adanya tuntutan golbalisasi dalam bidang pendidikan yang memacu keberhasilan pendidikan nasional agar dapat bersaing dengan hasil pendidikan negara-negara.
         Desentralisasi pengelolaan pendidikan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan kondisi daerah perlu segera dilaksanankan. Bukti nyata dari desentralisasi pengelolaan pendidikan ini adalah diberikannya kewenangan kepada sekolah untuk mengambil keputusan berkenaan dengan pengelolaan kurikulum, baik dalam penyusunannya maupun pelaksanaan disekolah.
         Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mmengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan, dan peserta didik. Oleh sebab itu, kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.
         Kewenangan sekolah dalam menyusun kurikulum memungkinkan sekolah menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa,, keadaan sekolah, dan kondisi daerah. Dengan demikian, daerah dan atau sekolah memiliki cukup kewenangan untuk merancang dan menentukan hal-hal yang diajarkan, pengelolaan pengalaman belajar, cara mengajar, dan menilai keberhasilan belajar mengajar.
         Keberhasilan pendidikan nasional ditentukan oleh prestasi siswa ditiap-tiap sekolah diseluruh Indonesia. Faktor penentu keberhasilan siswa terdiri dari beberapa faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi aspek biologis, intelegensi, psikologis, minat, motivasi dan cara belajar siswa. Faktor eksternal meliputi aspek lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, (Mursyid, 2010). Sekolah sebagai faktor eksternal penentu keberhasilan siswa memegang peranan yang tidak kalah pentingnya dengan faktor internal siswa. Untuk itu sekolah berupaya melakukan berbagai tindakan yang bermamfaat untuk meningkatkan keberhasilan siswa.dan mengurangi masalah pembelajaran yang timbul disekolah tersebut. Berbicara masalah pembelajaran pada saat ini pada umumnya para guru menghadapi tantangan yang cukup serius mengenai sulitnya para siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh. Ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya penggunaan kurikulum yang tepat, menyediakan tenaga pengajar yang berkualitas, menyediakan sarana dan prasarana sekolah yang memadai, mengkondisikan iklim sekolah yang kondusif untuk belajar dan lain sebagainya (Sri : 2008).
          Meskipun sekolah telah memiliki kewenangan dalam menyusun kurikulum dan menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, namun masih banyak siswa yang tidak lulus ujian nasional (UN) dan masih didapati adanya kecurangan dalam pelaksanaan UN. Inilah yang menjadi indikator yang menunjukkan bahwa masih ada masalah-masalah pembelajaran yang terjadi disekolah.
         Dengan demikian peneliti bertujuan untuk meneliti kesesuaian materi ajar dengan Kurikulum Tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang diterapkan disekolah khususnya bidang studi kimia, menganalisi bahan ajar serta masalah-masalah pembelajaran yang ada
         Dan yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kesesuaian materi dengan kurikulum satuan tingkat pendidikan yang ada disekolah? Bagaimana bahan ajar yang digunakan disekolah serta masalah –masalah pembelajaran  yang  di temukan di sekolah.

Metode Penelitian.
         Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan melalui pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah SMP swasta YPN Etis Landia di daerah Gaperta Ujung Medan. Dan sebagai sampel penelitian adalah SMP Swasta YPN Etis Landia Gaperta Ujung, kelas VII tahun ajaran 2010/2011, sebanyak 32 orang siswa.
         Penelitian ini dilaksanakan selama 3 hari (tanggal 2 – 4 Agustus 2010). Hari pertama wawancara dengan pihak sekolah (Kepala Sekolah dan guru bidang studi), hari kedua mengobservasi lingkungan sekolah baik itu dalam dan luar sekolah. Dan hari ketiga pemberian angket kepada siswa.
         Adapun bentuk wawancara yang dilakukan adalah berhubungan dengan penerapan Kurikulum tingkat satuan Pendidikan disekolah, baik itu silabus, materi ajar, bahan ajar yang digunakan serta masalah-masalah yang timbul ketika proses belajar mengajar. Bentuk observasi lingkungan sekolah yang dilakukan adalah keadaan fasilitas sekolah sarana dan prasarana sekolah dan bentuk lingkungan di sekolah. Dan bentuk angketnya, adalah 2 indikator diantaranya hal-hal yang mempengaruhi hasil belajar siswa, seperti faktor internal (diri siswa) dan eksternal(sarana dan prasarana, guru, dan orangtua). Adapun jumlah pertanyaan dalam angket yang diberikan sebanyak 12 pertanyaan dengan 3 pilihan diantaranya tidak pernah, jarang dan sering.
Hasil dan Pembahasan
         Hasil analisis data pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pengajaran dilakukan dengan bentuk wawancara kepada pihak sekolah yaitu Kepala sekolah, sementara dalam pelaksanaan kurikulum, pihak yang diwawancara adalah guru bidang Studi IPA khususnya yang mengajarkan kimia.
         Berdasarkan hasil wawancara diperoleh informasi bahwa implementasi penerapan Kurikulum belum sepenuhnya dilaksanakan ini dapat diperoleh dari Silabus yang belum dikembangkan. Di sekolah ini, guru kimia berasal dari jurusan kimia, dan guru untuk mengajarkan kimia untuk tingkat SMP telah terpisah dari guru IPA sehingga masing-masing guru fokus pada bidangnya masing-masing. Guru kimia telah menyusun prota, prosem dan rencana program pembelajaran (RPP) berdasarkan silabus dari BNSP. Yang menjadi buku pegangan guru mengikuti standar isi silabus dan layak dipakai. Selain itu juga, guru kimia juga memperoleh masalah pembelajaran.keadaan siswa yang kurang motivasi belajar, buku pegangan siswa yang tidak ada dan juga kondisi lingkungan sekolah yang ribut akibat daerah lintasan rel kereta api. Dari hasil observasi juga diperoleh bahwa lingkungan sekolah yang sempit, perpustakaan dan laboratorium yang tidak ada. Dan sekitar lingkungan sekolah adalah daerah lintasan rel kereta api dan daerah permukiman penduduk dengan mata pencaharian sebahagian besar adalah pemulung.
         Untuk menguatkan data hasil wawancara, maka peneliti juga memberikan angket terbuka kepada siswa. Dimana angket ini bertujuan untuk menguatkan informasi dari guru tentang masalah pembelajaran. Dalam angket ini, ada 2 faktor yang berpengaruh, diantaranya faktor internal dan eksternal. Adapun faktor internal adalah berasal dari diri siswa seperti halnya semangat belajar dan kemampuan. Sementara faktor eksternal adalah berasal dari sarana dan prasarana, media dan metode yang digunakan guru dan orangtua dalam hal ini difokuskan pada perhatian orangtua dan keadaan ekonomi. Angket yang digunakan terdiri atas 12 item choices, angket berisi pernyataan Hasil angket yang diperoleh adalah sebagai berikut:

Jenis Pernyataan
Jumlah pemilih
Tidak Pernah
Jarang
Sering
1.   Saya senang belajar kimia
1 orang
14 orang
17 orang
2.   Orangtua saya sangat mendukung saya untuk belajar kimia
6 orang
17 orang
10 orang
3.      Lingkungan sekolah saya sangat mendukung pelajaran kimia
15 orang
13 orang
3 orang
4.      Kami mengunjungi laboratorium jika ada pelajaran kimia
28 orang
-
4 orang
5.      Guru kimia saya selalu marah jika saya tidak belajar dengan baik
3 orang
17 orang
13 orang
6.      Saya benci jika ada ulangan kimia
19 orang
7 orang
6 orang
7.   Guru kami selalu memotivasi kami untuk belajar dengan baik
-
4 orang
28 orang
8.   Orangtua saya menyuruh saya belajar pada siang hari dan malam hari
3 orang
10 orang
19
9.         Orang tua saya selalu memenuhi kebutuhan sekolah saya
-
11 orang
22 orang
10.  Guru Kimia menggunakan media jika sedang mengajarkan materi kimia

2 orang
10 orang
19 orang
11. Perpustakaan disekolah menyediakan buku-buku kimia yang relevan
31 orang
1 orang
-
12.     Saya selalu menyiapkan diri dengan baik jika ada pelajaran kimia
25 orang
2 orang
5 orang

         Untuk menganalisis setiap masalah yang ada disekolah, dan menyesuaikannya dengan hasil wawancara, maka dari angket dilakukan perhitungan. Dengan mengadakan penjumlahan antara jumlah pemilih dengan jumlah seluruh siswa, maka persentase dari setiap faktor dapat dihitung dengan cara sebagai berikut: % setiap faktor dalam angket, adalah  jumlah pemilih untuk tiap choice dibagi jumlah siswa dikalikan dengan  100 %. Maka diperoleh hasil dibawah ini :

Faktor
Item
Tidak pernah
(%)
Jarang
(%)
Sering
(%)
Internal
Diri Siswa
1,6,12
46,87 %
23,95%
29,18%
Eksternal
Sarana dan Prasarana
3,4,11
77,08 %
14,7%
7,32 %
Media/metode
5,7,10
5,21%
32,29%
62,5%
Orangtua
2,8,9
9,375 %
39,58%
53,125%
Rata-rata persentase
34,63%
27,63%
38,03%
        
         Dari hasil perhitungan angket, diperoleh faktor yang dominan dalam masalah pembelajaran adalah sarana prasarana yaitu sebesar 77,08 %, dilanjutkan dengan faktor dari dalam diri siswa yang kurang yaitu sebesar 46,87 %, dan orang tua 9,375 % dan pengaruh dari media/ metode dari guru. Dari beberapa faktor diatas, telah membuktikan bahwa sarana prasana dalam belajar merupakan faktor penting dalam meningkatkan hasil pembelajaran.
         Dari hasil angket diatas, telah membuktikan hasil wawancara, dimana masalah pembelajaran timbul dari berbagai hal, terkhusus dari sarana dan prasarana dalam pembelajaran. Siswa yang tidak memiliki buku pengangan akan mengurangi semangat belajar siswa, orangtua yang berkeinginan untuk menyekolahkan anak-anaknya bermasalah dalam keadaan ekonomi. Dari berbagai masalah diatas, akan semakin menghambat proses pembelajaran dan masalah pembelajaran yang tidak bisa diselesaikan dengan tuntas.
1.            Lingkupan materi ajar Kimia di SMP
Dalam lingkupan materi ajar kimia di SMP meliputi identifikasi materi ajar dan deskripsi materi ajar kimia.
1.1    Identifikasi Materi Ajar Kimia
         Berdasarkan standar isi yang dikeluarkan oleh BNSP terdapat standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk kelas VII SMP yaitu sebagai berikut:
Semester I      
Standar Kompetensi : 2. Memahami klasifikasi zat
Kompetensi dasar :
2.1    Mengelompok-kan sifat larutan asam, larutan basa, dan larutan garam melalui alat dan indikator yang tepat
2.2    Melakukan percobaan sederhana dengan bahan-bahan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari
2.3    Menjelaskan nama unsur dan rumus kimia sederhana
2.4    Membanding-kan sifat unsur, senyawa, dan campuran

Standar Kompetensi: 4. Memahami berbagai sifat dalam perubahan fisika dan kimia
Kompetensi Dasar:    
4.1    Membandingkan sifat fisika dan sifat kimia zat
4.2    Melakukan pemisahan campuran dengan berbagi cara berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia
4.3    Menyimpulkan perubahan fisika dan kimia berdasar-kan hasil percobaan sederhana
4.4    Mengidentifikasi terjadinya reaksi kimia melalui percobaan sederhana
Semester II
Standar Kompetensi: 5. Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan
Kompetensi Dasar :
5.4    Menerapkan keselamatan kerja dalam melakukan pengamatan gejala-gejala alam
1.2    Deskripsi Materi Ajar  Kimia
         Materi ajar dikembangkan dari standar isi yang disusun oleh BNSP yang berisi pokok-pokok pembelajaran, pokok-pokok materi tersebut adalah:
1.      Asam, Basa dan Garam
2.      Sifat Asam Basa Pada Bahan Makanan
3.      Unsur Kimia
4.      Unsur, Senyawa, dan Campuran
5.      Sifat Fisika dan Sifat Kimia
6.      Pemisahan Campuran
7.      Perubahan Fisika dan Perubahan Kimia
8.      Reaksi Kimia
9.      Keselamatan Kerja
         Materi ajar berisi konsep- konsep kimia yang disampaikan secara sederhana dan kugas untuk menghilangkan kesan bahwa kimia adalah sulit dan banyak menghapal, selain itu deskripsi materi ajar disajikan dengan konsep kimia yang tidak bisa terpisah dari kehidupan nyata siswa dehigga siswa menyadari bahwa kimia berkaitan dengan kehidupan mereka sehari-hari, contohnya siswa akan menemukan kimia dalam berbagai kehidupan manusia dan barang-barang yang sering digunakan manusia.

2.      Analisis Bahan Ajar
         Bahan ajar yang digunakan di Sekolah Menengah Pertama swasta Etis Landia kelas VII ada dua buku, yaitu penerbit Esis karangan Lufti dan Yudistira  karangan Nurul Kamilati. Buku ini sesuai dengan standar isi silabus dan kurang digunakan, karena rincian materi yang kurang meluas. Isi buku tersebut tidak berurutan bila disesuaikan dengan materi ajar yang dikembangkan BNSP.  Dari hasil angket di lapangan dan observasi lingkungan sekolah ditemukan bahwa sekolah tidak memiliki perpustakaan dan siswa tidak memiliki buku pegangan.
         Ini merupakan kendala dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar tidak tercipta komunikasi dua arah, informasi pendidikan hanya diperoleh dari guru, hal ini juga menjadi peluang bagi siswa untuk ribut dan kondisi lingkungan sekolah yang dekat dengan lintasan kereta api hal ini justru membuat hasil belajar yang semakin menurun.
3.      Masalah Pembelajaran
         Masalah pembelajaran yang di temukan dari hasil wawancara, observasi dan hasil angket yang telah analisis ada beberapa aspek diantaranya, sarana dan prasarana belajar, media dan metode yang digunakan guru dan lingkungan luar sekolah. Ketiga aspek ini sangat berpengaruh dalam meningkatkan hasil pembelajaran.
3.1    Sarana dan Prasana
Dari hasil observasi, wawancara dan juga angket ditemukan bahwa sarana dan prasarana masih sangat minim. Hal ini sangat berpengaruh dalam meningkatkan hasil belajar. Laboratorium dan perpustakaan yang tidak ada justru membuat siswa kurang motivasi dalam belajar, hal ini sesuai dengan pendapat para ahli psikologi umumnya sependapat bahwa anak-anak akan mudah memahami konsep–konsep yang sulit apabila disertai dengan contoh-contoh yang kongkrit, contoh-contoh yang wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi dengan mempraktikkan sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik, melalui penanganan benda yang benar-benar nyata.(Desi : 2006). Disamping itu juga, dikatakan bahwa pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi “mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Pendekatan kontekstual adalah suatu pendekatan pengajaran yang dari karakteristiknya memenuhi harapan itu, yaitu merupakan suatu konsep belajar dengan cara guru mengaitkan situasi dunia nyata siswa ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya. Siswa akan lebih paham jika halnya mereka mengalami langsung dan melihat bentuk dari alat-alat kimia yang ada dilaboratorium.
 
3.2    Lingkungan luar sekolah 
          Dalam kehidupan manusia, setiap manusia membutuhkan suasana lingkungan yang aman, bersih dan sebagainya. Suasana bising, udara dan air yang kurang bersih yang akan dapat ,menggangu pertumbuhan fisik dan psikologis anak. Suasana lingkungan yang udara dan air kurang bersih dapat mempengaruhi kesehatan fisik yang mengakibatkan tingkah laku anak dalam belajar terganggu. (tim pengajar perkembangan peserta didik : 2006). Ini juga sebagai kendala guru dalam melaksanakan pembelajaran, dimana keadaan anak yang berasal dari lingkungan setempat dengan lingkungan sosial yang kurang baik. Lingkungan sosial anak tempat terjadinya hubungan sosial diantara seseorang dengan orang lain dimana dalam hubungan itu terjadi saling mempengaruhi antara orang yang saling berhubungan itu. Melalui saling mempengaruhi inilah membawa dampak terhadap perkembangan anak. Lingkungan sosial anak seperti halnya juga lingkungan keluarga merupakan lingkungan sosial pertama dalam kehidupannya. Dalam lingkungan keluarga inilah anak mulai belajar berbagai hal yang berdampak terhadap perkembangan intelek, sosial dan sikap anak. Salah satu hal yang mempengaruhi perkembangan anak dalam keluarga adalah tipe pelayanan orang tua yang hangat yakni yang memberikan kasih sayang yang tulus dan perhatian besar terhadap kepentingan anak.
3.3    Media dan Metode dalam pembelajaran
         Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemamfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat disediakan disekolah, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan zaman (Arsyad, 1997 : 2). Tidak hanya penggunaan media yang diharapkan, tetapi juga pemilihan metode yang tepat, agar media dan metode dapat berdampingan dengan tepat. Proses belajar mengajar pada hakekatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan. Ada kalanya penafsiran akan pesan tersebut tidak berhasil, kurang memahami apa yang didengar, dibaca, atau dilihat dan diamati. Hal ini terjadi karena beberapa faktor penghambat antara lain, psikologis, seperti minat, sikap, pendapat, kepercayaan, intelegensi, pengetahuan dan hambatan fisik, seperti misalnya kelelahan, sakit, keterbatasan daya indera, dan cacat tubuh. Karena adanya hambatan tersebut, proses komunikasi belajar mengajar seringkali berlangsung secara tidak efektif dan efisien. Media dan metode pendidikan sebagai salah satu cara dan sumber dalam menyalurkan pesan dan mengatasi hal tersebut. (Sadiman, dkk.2003 : 11).
         Hamalik (dalam Arsyad, 1997 : 15) penggunaan media dan metode pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.         
4. Analisis Kurikulum
         Dari hasil analisis wawancara diatas, disimpulkan bahwa sekolah belum mengembangkan kurikulum sesuai dengan daerah lingkungan sekolah. Dengan demikian, diharapkan sekolah mengikuti aturan dari pemerintah yang telah mengatakan desentralisasi pengelolaan pendidikan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan kondisi daerah perlu segera dilaksanankan. Bukti nyata dari desentralisasi pengelolaan pendidikan ini adalah diberikannya kewenangan kepada sekolah untuk mengambil keputusan berkenaan dengan pengelolaan kurikulum, baik dalam penyusunannya maupun pelaksanaan disekolah.
         Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mmengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan, dan peserta didik. Oleh sebab itu, kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.
         Kewenangan sekolah dalam menyusun kurikulum memungkinkan sekolah menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi daerah. Dengan demikian, daerah dan atau sekolah memiliki cukup kewenangan untuk merancang dan menentukan hal-hal yang diajarkan, pengelolaan pengalaman belajar, cara mengajar, dan menilai keberhasilan belajar mengajar.
Kesimpulan
         Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
  1. Kurikulum Silabus yang dipakai di kelas VII Etis Landia diadopsi langsung dari model kurikulum silabus BNSP. Sekolah belum mengembangkan kurikulum silabus dari BNSP sesuai dengan potensi daerah. 
  2. da berbagai masalah pembelajaran yang muncul disekolah, seperti halnya buku pegangan siswa yang tidak ada, sarana dan prasarana yang tidak ada, lingkungan sekolah yang bising, sekolah tidak menyediakan media, sehingga guru yang mengajar hanya menggunakan media yang relative terjangkau dan metode mengajar yang digunakan guru kebanyakan hanyalah ceramah dan diskus
Saran
         Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah: sebaiknya pihak sekolah, guru bidang studi, orang tua dan juga lingkungan tempat sekolah, hendaknya berkerja sama dalam mengembangkan kebutuhan sekolah agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.
         Dan untuk mengatasi masalah pembelajaran yang ada dalam sekolah, diharapkan kepada pemerintah memperhatikan keadaan sekolah dan membantu sekolah dalam memenuhi kebutuhan sekolah yang menunjang tercapainya keberhasilan anak didik.

Daftar Pustaka

________, http://www.warta unair.ac.id (diakses 30 Juli 2010)
________, http://www.suara merdeka.com, (diakses 30 Juli 2010)
Azhar, Arsyad, (1997), Media Pengajaran, Penerbit Raja Grafindo Persada, Jakarta.        
Girsang, Sri Roganda., (2008), Perbandingan Penggunaan Multimedia berbasis Komputer dan media sederhana terhadap hasil belajar kimia siswa pada sub pokok bahasan minyak bumi di SMA Negeri 1 Lubuk Pakam, Skripsi, FMIPA, Unimed, Medan
Hamalik, O., (1985), Media Pendidikan, Penerbit Alumni, Bandung.
Kamilati, Nurul, (2006), Mengenal Kimia SMP Kelas VII, Penerbit Yudhistira, Kebumen
Lufti, (2007), IPA KIMIA SMP dan MTS untuk Kelas VII, Penerbit Esis, Jakarta
Sadiati, Desi (2006), Meningkatkan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran kooperatif investigasi kelompok pada pokok bahasan gaya dan percepatan kelas VII SMP Negeri 2 Bukateja, Skripsi, FMIPA, UNS, Semarang
Tim pengajar, 2006, Perkembangan Peserta Didik. Universitas Negeri Medan, Medan